Rabu, 27 November 2013 0 komentar

PELANGI DI MALAM HARI


Karya Elisabeth Cecilia

Setiap nafas yang kurasakan aku selalu merindukan pelangiku, selalu mencari-cari segalanya yang kubutuhkan darinya. Cintanya.
Dialah pelangiku karena tak seorangpun bisa menyentuhnya selain aku. Tak ada seorangpun yang diperbolehkannya untuk sekedar meliriknya. Ia selalu mengatakan bahwa ia adalah milikku.
Pelangi...
Malam itu aku kembali dalam heningku. Kucoba meraba-raba lorong imajinasiku untuk hanya sekedar mendambanya ada disampingku. Aku kosong dan tak berarah sekarang.
"Ernest!" Suara itu tak asing lagi bagiku,
"Masuklah!" Jawabku dan kubiarkan Pelangi masuk ke dalam kamarku.
"Kamu udah minum obatnya?" tanya Pelangi kepadaku. Iya, dia adalah dokterku.
"Udah kok." kataku, pelan seperti biasa, pelan dan lemah.
"Hanya memastikan kamu minum obatnya. Gimana hari ini?" Senyumannya mulai terkembang perlahan,
"Biasa aja Lan."
"Lain kali kamu jalan-jalan aja disekitar rumah sakit! Kan bisa ditemenin pacar kamu. Siapa namanya?"
"Bintang." Jawabku datar,
"Iya-iya, Bintang."
"Males Lan, aku maunya sama kamu!" Aku mulai meminta dan kulihat wajah pelangi berubah menjadi kemerahan, dan ia terlihat malu-malu. Aku tak mau lagi bersama Bintang, terakhir kali Justin, sahabatku memergokinya sedang selingkuh. Aku percaya karena ia tak pernah melupakan bukti di setiap kasus. Sungguh ironis bagiku. Sekarang yang penting aku dan Pelangi. Tidak ada satupun orang yang menggantikannya.


Dulu aku dan Pelangi pernah menjadi sepasang kekasih ketika SMA. Waktu itu aku masih sangat sehat dan bahagia. Waktu itu juga Pelangi masih sangat lugu dan lucu hingga akhirnya kami berpisah karena aku memutuskan untuk kuliah di Australia dan dia kuliah di Jerman.
Jarak yang begitu jauh membuat kami tidak bisa melanjutkan hubungan cinta ini. Sebenarnya bukan kami tapi aku karena hingga sekarang Pelangi belum mendapatkan penggantiku. Padahal semua orang tahu kalau ia begitu cantik, cerdas dan menawan. Semua cinta ditolaknya tanpa alasan. Kali ini aku merasa sungguh berdosa.

Aku sendiri sudah berganti pasangan berkali-kali dan yang terakhir dengan Bintang, gadis yang memiliki watak yang hampir sama dengan Pelangi. Aku bertemu dengannya ketika aku sedang membaca di perpustakaan kampus, di Australia. Ia benar-benar suka membaca, ia adalah mahasiswi Filsafat dan benar-benar paham betul dengan apa yang ia cari, dan aku sendiri seorang mahasiswa Teknologi Informasi yang tergila-gila dengan komputer melebihi apapun.

Setelah aku lulus, aku bekerja di sebuah perusahaan sebagai programer dan setiap hari setiap waktu aku bercinta dengan komputerku, bertahun-tahun, melupakan kekasih satu-satunya hingga pada titik jenuhnya aku terkapar di depannya. Waktu itu jam menunjukkan pukul dua dini hari dan aku masih mengerjakan pekerjaanku yang tak kunjung usai. Entah mengapa kepalaku sangat pusing, mataku mulai buram dan tubuhku sakit semua. Biasanya ini bukan apa-apa bagiku tapi waktu itu aku langsung jatuh pingsan dan aku juga mimisan -itu juga tidak pernah terjadi padaku-.

Keluargaku panik dan membawaku ke rumah sakit. Aku tak tahu apa yang dilakukan dokter hingga ketika aku sadar, aku harus menerima kenyataan pahit ini. Aku mengidap Leukemia stadium lanjut.
Awalnya aku merasa bisa mengatasinya, tapi tubuhku tidak. Aku tetap merasa lelah sepanjang waktu, rasanya ingin tertidur padahal pekerjaanku amat sangat banyak hingga tak ada waktu istirahat. Aku mulai cemas dengan keadaan ini, aku sering limbung dan terjatuh begitu saja, belum lagi kalau aku merasakan sakit disekujur tubuhku. Dokter menyarankan agar aku melakukan kemo terapi, tapi aku menolak karena efek setelahnya adalah momok bagiku hingga akhirnya Pelangi datang setahun lalu. Ia memaksaku dengan caranya.

Pelangi termasuk dokter spesialis muda, usianya dua puluh sembilan tahun sekarang. Ia spesialis kanker dan sangat pandai untuk membujuk pasiennya melakukan apapun yang benar-benar harus dilakukan. Aku melihatnya, ia tampak cantik dengan jas dokternya. Aku mau ikut kemo dan menanggung resikonya hingga segalanya merupakan suatu hal yang biasa untukku. Aku selalu muntah, pusing, lemas, dan rambutku rontok, itu juga sudah biasa bagiku asal ada Pelangi disampingku.

Pelangi yang hidupnya selalu berwarna...
Kurasakan tangannya menyentuh pipiku, tangannya sedikit kasar namun hangat. Itu caranya menenangkanku ketika aku sedang dalam kondisi buruk, apalagi sekarang. Aku akan selalu buruk, aku terlalu lemah hanya untuk sekedar berdiri sendiri, tubuhku penuh lebam dan tulangku nyeri. Kurasa aku sudah akan pergi secepatnya.
Aku pernah mendengar ketika Pelangi berbicara dengan ibu, umurku tinggal beberapa hari lagi. Dua tahun sudah aku mengidap penyakit ini dan beberapa hari lagi aku bisa bebas selamanya.

Orang bilang aku bisa sembuh dengan operasi namun sampai sekarang belum ada donor sumsum tulang belakang untukku, hanya ibu yang bisa namun ia tidak mencukupi kriteria kesehatan. Aku tidak masalah kalau harus pergi, toh masih ada kakakku, Thalia yang bisa menjaga ibu yang sekarang sudah menjanda setelah ayahku pergi.
"Nes, kamu harus makan sesuatu nak!" ibuku memaksaku untuk makan, namun aku menolak. Melihat makanan saja aku sudah muak, apalagi memakannya. Aku sudah beberapa hari ini tidak makan dan hanya bergantung pada injeksi.
"Nes, kasihan ibumu. Dia udah nungguin kamu lho!" cetus Pelangi dan ia pun tersenyum manis. Oh aku selalu ingin memilikinya walaupun itu mustahil.
"Aku capek Bu." kataku setengah berbisik karena kekuatanku sudah habis walau untuk berbicara sekalipun,
"Ibu tahu Nak! Makanya kamu makan. Nanti capeknya bisa hilang kok. Percaya deh sama ibu!" dan saat itu juga aku melihat air mata ibu berlinang, matanya berkaca-kaca.
Kuhapus air mata ibu, kucoba mengangkat tanganku yang kurus dan lemah ini untuk menghapus air mata itu. Yang tidak seharusnya menghujani malam hariku yang tenang ini. Demi ibu, aku mau beberapa suap. Demi ibu.

Nyaris setiap hari aku hanya melihat mata yang berkaca-kaca entah ibu, Thalia, Justin dan teman-temanku. Aku heran pada mereka. Emangnya kenapa kalau aku mati? Toh aku bukan seorang yang begitu spesial, aku biasa saja. Aku hanya senang melihat Pelangi, ia selalu tersenyum dan tenang ketika berhadapan denganku. Mungkin karena ia sudah banyak menangani pasien yang sepertiku.
Setiap pagi Pelangi mengajakku keluar kamar sekarang karena selama satu bulan aku hanya ada di dalam kamar itu saja dan tak pernah keluar. Dan aku sudah setahun berhenti dari pekerjaanku. Ini hal yang sangat tidak pernah kuduga. Sakit, berhenti bekerja, tidak jadi membahagiakan keluarga, dan pastinya tidak menikah.

'Know that I will never marry,
Baby, I'm just soggy from the chemo
But counting down the days to go’
-My Chemical Romance_Cancer-

Diluar aku merasa sangat aneh. Aku orang asing bagi dunia luar. Makhluk pucat dengan rambut yang nyaris habis, sangat lemah dan tidak berdaya ini mencoba untuk mencari udara luar yang memiliki atmosfer yang khas dengan cahaya matahari yang cerah dan meninggalkan ruangannya yang tertutup sekali serta penuh peralatan Rumah Sakit yang membuat setiap orang depresi karenanya.
"Kau tahu? Matahari pagi selalu mengingatkanku pada sesuatu." Kata Pelangi kepadaku,
"Ehm, sepertinya tidak. Kau ingat dengan apa?"
"Kau, senyummu, matamu yang dulu."
"Waktu SMA?"
"Tepatnya waktu pertama kali kita berkenalan."
"Kenapa? Waktu itu aku menyelamatkamu dari kakak kelas yang kejam."
"Waktu MOS." Pelangi kembali tersenyum, "Sampai kau mendapat gelar calon siswa terbaik."
"Haha, pemuda kekar yang tinggi dan tampan." kataku mengingatkan Pelangi waktu dia bercerita kepada teman-temannya tentang diriku.
"Ehm, dengan sorot mata yang menawan, senyumannya begitu manis. Iya, memang itulah kau sampai sekarang."

Aku mengugat pendapat Pelangi yang satu ini. Aku sekarang lebih buruk, putus asa dan tak berdaya.
"Kau bercanda. Sekarang aku berbeda." sergahku pelan,
"Bagiku, kau adalah kau. Sampai kapanpun." Nada bicaranya mulai cerah, mencerah.
"Kau tenggelam dalam masa lalu."
"Tidak sama sekali. Ingat? Aku menunggumu, Ernest."
"Seharusnya tak perlu karena percuma."
"Nyatanya aku bersamamu lagi. Setidaknya itu impas."
"Apa kau akan menikah jika aku pergi?"
"Mungkin."
"Menikahlah kalau kau mau. Jangan anggap aku lagi! Aku tahu kau profesional dalam hal ini."
"Iya, benar sekali. Selama kita tidak bertemu aku sudah berulang kali merasa kehilangan dan itu membuatku terbiasa."
"Siapa? Siapa yang pergi?"
"Adikku, Joshua. Sahabatku di Jerman, Terrece. Yah itu." kata-katanya terdengar amat tegar dan datar.
"Joshua? Dia meninggal? Kenapa?"
"Kau lupa? Dia sakit kanker. Dia yang membuatku ingin menjadi dokter seperti sekarang. Yah, walau ketika aku lulus dia sudah pergi."
"Iya aku lupa. Padahal dulu aku sering menjenguknya di rumah sakit."
Lalu suasana menjadi hening seketika. Aku tahu pasti dia ingat seketika dengan adiknya yang sangat dicintainya itu.
Entah mengapa aku ingin kembali ke kamarku. Aku berjalan terus perlahan-lahan dengan bantuan Pelangi hingga kembali ke kamar itu.

Aku kembali di atas tempat tidurku dan membaringkan tubuhku. Aku ingat hidupku tidak lama lagi,
"Aku tak percaya kalau sebentar lagi aku harus meninggalkanmu." Kataku pelan sambil menatap mata Pelangi sedalam yang aku bisa.
"Aku juga. Aku mencintaimu." Pelangi mulai menggenggam tanganku,
"Aku rasa ini tidak adil bagimu. TIDAK ADIL!" aku mulai berteriak, mulai membentak sejadinya, emosiku melonjak dan aku rasa aku benar-benar merasa berdosa dengannya,
"Mengapa?"
"Apa kau tidak merasakan? Kau menunggu lama untukku dan aku kembali untuk mengucapkan selamat tinggal untukmu. Adilkah itu semua?" Aku mencoba mengeluarkan seluruh tenagaku untuk ini.
"Sepertinya aku pernah mengatakan hal ini sebelumnya. Semuanya sudah terbayar setelah aku bertemu denganmu."
"CUKUP! Jangan bohongi aku! Bahkan kau telah membohongi perasaanmu sendiri! Munafik!" Aku semakin tidak tahu harus bagaimana mendengar jawaban Pelangi. Ia terus tersenyum. Tersenyum.
"Maafkan aku kalau kau tak menerima ini. Nes, aku tahu aku membohongi perasaanku, membohongimu dan mungkin aku munafik. Sangat munafik. Tapi asal kau tahu. Itu semua aku lakukan karena aku cinta kau. Aku coba melupakan kesedihanku, menjadi tegar, menjadi profesional di depanmu. SEBENARNYA TIDAK JUGA! Aku menangis dibalik semua ini! Menangis! Kau puas?!" Pelangi mulai meneteskan air mata dan emosinya meledak.
"Cinta pertamaku, kau. Dan aku belum bisa menggantikanmu hingga aku percaya aku harus berlari, Nes. Lari, jauh sejauh-jauhnya dari perasaan itu. Menjadi profesional seperti yang kau katakan. Sebagai dokter yang merawat pasiennya. Menikah dan melupakanmu." Ia terisak terus hingga aku tak tega untuk meneruskan ini.

‘I always knew the day would come
You'd stop crawling, start to run
Beautiful as beautiful can be’
-Miley Cyrus ft Billy Ray Cyrus_Butterfly Fly Away-

"Baiklah... Kau tahu? Suatu saat aku akan menunjukkan padamu tentang apa yang harus kau lakukan. Lan... Kau... Warna dalam gelapku. Ingat! Pelangi di malam hari. Itulah kau! Selama aku sekarat kau ada dengan senyum dan tawamu yang menghapus semua ketakutanku dan kesedihanku." Kuhapus air mata itu, hentikan semua ini. Mengapa aku harus selalu memulai kemarahan ini? Mungkin aku telah menambah beban untuk Pelangi. SIALAN! Aku bodoh sekali.
"Maaf... Aku mengganggu pagimu." Ia memegang tanganku yang masih membelai wajahnya.
"Tidak! Aku yang harus minta maaf dan sebenarnya aku yang mengganggu pagimu."
"Mungkin sebaiknya aku keluar."
"Jangan..." aku mencegahnya karena meski begitu aku tak bisa sendirian saat ini. Aku butuh seseorang untukku. Aku begitu takut. Takut akan apa saja.
"Baiklah. Tapi jangan lagi kau ulangi hal tadi. Ingat! Kita sama-sama profesional." Ia menyentuh pipiku dan menyeka air mataku, aku baru sadar kalau aku selemah itu. Aku bisa menangis. Menangis.
Pelangi...
Kau tahu? Aku damai sekarang. Aku bahagia dan jiwaku mulai bersemangat. Jiwaku ingin pergi secepatnya. Maafkan aku... Lagi.
Kutatap matanya yang indah dan berkaca-kaca itu
Aku merasa tak berdaya
Lemah sekali, aku lemah sekali
Begitu lemahnya sampai mataku terpejam
Terpejam...
Sunyi...
Antara hitam dan putih
Semuanya berakhir
Terima kasih Pelangi
Kini aku merasa ringan sepertimu
Hanya bertemu dan impas
Tetaplah tersenyum, 'profesional'
Mataku pun akhirnya terpejam
Untuk selamanya...
Kulihat semua orang berdiri disekitarku, tapi aku tidak bisa menyentuh mereka. Ragaku ada disitu dan aku disini. Sepertinya aku sudah menyelesaikannya. Aku tahu Tuhan sayang padaku dan semua orang disekitarku. Selamat tinggal semua, selamat tinggal pelangi di malam hariku...

The End

PROFIL PENULIS
Siswi IPS di sebuah Kolese di Semarang yang suka sekali dengan kesenian dan berimajinasi. Bercita-cita menjadi musisi dan novelis.
Follow @elelisalisa on twitter or lisacecilia.tumblr.com
Facebook: http://www.facebook.com/lisacecil.cinta


0 komentar

DIA YANG KU PILIH MAHROMKU


Cerpen Karya Lily Arsy

Bunga-bunga itu memang cantik dan indah. Sayangnya bunga-bunga itu terkadang hanya untuk menaklukkan para dewi-dewi yang bertebaran hampir di seluruh permukaan bumi ini oleh para playboy . Tapi berbeda dengan cowok satu ini, hem........cowok?? Kurang cocok mungkin, ya?. Lebih tepat disebut pria dewasa. Setiap hari dia datang ke florist ini, entah jam berapa? Tapi dia pasti datang untuk memesan satu rangkaian bunga mawar merah dengan terselip setangkai lily putih di dalamnya. Kenapa aku tahu begitu detail? Alasannya mudah karena kebetulan aku pemilik florist ini dan dia pelanggan setia ku sejak awal aku membuka florist ini. Walau begitu aku nggak pernah tahu untuk siapa dia memesan bunga yang sama setiap hari.

Hari ini cuacanya mendung, mungkin aku akan tutup lebih cepat dari biasanya. Dan dia belum datang. Ya.......mungkin dia lagi sibuk. Gerimis mulai datang membasahi tanah hitam bergaris putih itu. Lalu datang mengiringi, tukang pos mengirim surat untukku. Ya.........siapa lagi kalau bukan Hendra si tukang pos itu, dia selalu datang setiap seminggu sekali untuk mengirim surat dari sahabatku yang jauh di sebrang. Mungkin aneh, di jaman yang udah secanggih ini masih silaturahmi pakai surat?? Memang aneh tapi itu yang membuat kami berbeda dengan yang lain. Selain surat, Mila juga sering menyelipkan foto dalam surat-suratnya. Tetapi aku masih menunggu dia, pria itu datang. Dan hujan sudah mulai reda. Dengan rasa penasaran “kenapa dia tidak datang?”, aku menutup florist ini.
Berminggu-minggu dia tidak melangkahkan kaki tegaknya ke dalam florist ini. Rasanya aneh jika ia tidak datang. Saat aku termenung, datanglah lagi Hendra si tukang pos membawa surat untukku. Anehnya surat itu bukan dari Mila, entah dari siapa namun kata-katanya begitu menyejukkan hati “Astaghfirullah.....ampuni aku ya Allah, karena lebih mengagumi tulisan makhluk-Mu”, tersadar dari buaian kata-kata surat itu. Hingga minggu berikutnya tiba dan yang ku harapkan datang, walau dengan penampilan yang sedikit berbeda aku tetap masih mengenalinya. Dia lebih tampan dari sebelumnya dengan rambut yang terpangkas rapi dan kumis tipis yang bertengger di atas bibir di bawah hidungnya.
“Syifa, tolong rangkaikan bunga dengan komposisi seperti biasanya.”
“Oh....Rangkaian bunga mawar merah dengan satu bunga lily?”
“Ya...tepat sekali”
“Baiklah, tunggu sebentar”. Aku yang sengaja telah merangkainya sebelum ia datang, langsung saja mengambilkan rangkaian bunga itu untuknya. “Ini Pak.....Ngomong-ngomong beberapa hari belakangan ini bapak kemana ja, kok nggak pernah beli bunga. Heem... tidak usah jawab nggak pa pa kok”.
“ Hem..... ada urusan kerja ke singapore.”
“Oh... Ni pak hargnya masih sama seperti biasanya”
“ Thanks ya, aku duluan”.
“Sama-sama pak”.

Entah mengapa hati ini begitu tenang ketika pelanggan setia ku itu datang lagi. Seperti separuh hidup ku tidak jadi pergi. “Astagfirullah....ada apa dengan ku ini. Profesional....profesional syifa, jangan berharap lebih dari sebatas penjual dengan pembelinya”. Lalu ku lihat jam di tangan ku, sudah waktunya sholat dzuhur. Dan bergegaslah aku membasahi wajah ini dengan sejuknya air wudlu. Ku tunaikan kewjiban ku sebagai seorang muslim, dengan hati yang tenang dan tidak berburu-buru aku menjalankan sholat ku. Setelah itu kembali lagi ke depan meja ku. Tak selang begitu lama ku dapati dari jauh datang Hendra dengan membawa sesuatu yang harum berwarna merah menawan setiap kaum hawa.
“Ada kiriman surat untuk ku Hen?”.
“Ada mbak, malahan ni suratnya pakek plus.”
“Plus apa? Paling foto dari temenku?”
“Enggak mbak kali ini beda, plusnya itu ini (sambil memberikan rangkaian bunga itu kepada ku)”.
“(Dengan perasaan penasaran) Bunga ini? Dari siapa Hen?”
“ Pengirimnya sama dengan yang ngirim surat ini.” Ya udah mbak aku langsung ja masih banyak yang belum aku kirim.”
“Oh......ya makasih Hen”.

Hendrapun berlalu dan ku bawa rangkaian bunga ini dengan heran plus bingung, “Siapa yang kirim bunga ini?!?!” . Lalu ku baca dengan cermat surat itu. Ku cari petunjuk tentang siapa yang mengirim semua ini. Anehnya kenapa dia harus kirim bunga kenapa nggak yang lainnya ja, misalnya ja coklat atau apa gitu. Masak penjual bunga diberi bunga sama orang lain. Tetapi memang ku akui dia pandai dalam merangkai kata-kata, seperti dia tahu begitu banyak tentang ku. Seperti pernah bertemu dan ngobrol sama aku. Sudah ku baca berulang kali namun tidak ku temukan petunjuk satupun. Hingga tiba waktu ku menutup toko. Ku tinggalkan bunga dan surat itu di atas meja kerja ku.

Malam itu aku tetap terjaga dengan gelisah. Ku bolak balikkan tubuh ini, dan ku coba pejamkan mata ini. Tetapi mata ini tidak mau tertutup dengan tenang. Dan aku beranjak dari peraduan ku, ku teguk segelas susu putih hangat. Lalu ku bawa kaki ini ke peraduanku, hingga aku terbuai ke dalam mimpi. Dalam mimpi itu aku bertemu dengan laki-laki yang tampan bagai nabi Yusuf a.s, dia datang membawa sebuah surat dan bunga lily untukku. Dalam mimpi terasa begitu nyata dengan kelembutan wajahnya, seakan-akan dia adalah pemuda yang di kirim Allah untukku. Dan semua mimpi itu sirna dengan datangnya fajar.
 
Meskipun hari masih pagi, aku tak mau bermalas-malasan ku kayuh sepeda ku dengan sekuat tenaga. Sesampainya di depan florist ku temukan setangkai bunga lily dengan sepucuk surat yang indah dalam peraduannya. Ku parkir sepeda ini, lalu ku baca surat itu di depan meja kerja ku.
 
Dear Syifa

Assalamu’alaikum w.w
Dengan basmalah ku tulis dan ku kirim sepucuk surat ini untukmu
Aku yang selalu mengagumimu dalam setiap rangkaian bunga yang kau rangkai
Aku yang selalu mengagumimu dengan kelembutan bahasamu
Aku yang tak mampu berterus terang kepadamu tentang apa yang ku rasa
Tentang rasa yang datang karena Sang Pencipta rasa ini yang menjatuhkannya
Yang mampu merubahku menjadi makhluk-Nya yang lebih baik dari waktu dulu
Ku kumpulkan keberanianku tuk mengungkapkan rasa yang tertanam dalam singgasana hati
Dengan setangkai bunga lily bersama surat ini.
Wassalammu’alaikum w.w
From, Pemilik rasa ini
 
Ku mulai menerka nerka siapa pengirim surat ini, dan tertuju pada sosok dia pelanggan setia ku. Oh.........tapi tidak mungkin, dia terlalu sempurna untuk bisa melihat ku dengan semua rasa yang selama ini ku pendam. Tinggallah di sini aku dengan harapan yang tak berujung balasan. Ku sudahi ratapan ini, ku buka toko bunga ini dan ku lihat mobil yang sudah bertengger di depan florist. Dengan penuh bunga mawar merah menghiasi mobil itu dan ku lihat serangkai bunga lily putih yang merenggut perhatianku di atas mobil itu. Kaki ini melangkah dengan sendirinya keluar dari florist. Tepat di depan mobil itu ada sepucuk surat untuk ku. Tak lama kemudin ku melihat semua karyawan ku berkumpul mengelilingiku dengan membawa bunga lily putih. 

Dengan berdandan layaknya karyawan dan menyatu dengan karyawan lainnya. Dengan satu persatu mereka memberikan bunga lily yang mereka bawa, dia mengambil rangkaian bunga lily putih yang bertengger di atas mobil. “ Syifa maukah engkau menjadi makmum ku? Dalam sisa hidup ini...” . Aku terpaku seperti mimpi yang ku kira tak pernah menjadi nyata. Ya....Rabb jika Engkau yang telah membawanya kepadaku maka ijinkanlah kami menyatukan tali silaturahmi ini. Dengan bismillah ku terima lamarannya untuk dia menjadi mahromku.
 
-Tamat-

PROFIL PENULIS
Mahasiswa STIKES ICSADA Bojonegoro
No. Urut : 112
Tanggal Kirim : 22/11/2013 12:08:17

0 komentar

Curug Ceheng - Banyumas



Curug Ceheng memiliki ketinggian terjunan air hanya 13 meter dan berada di lereng tenggara Gunung Slamet dengan ketinggian sekitar 600 m diatas permukaan laut.  Air terjun ini merupakan salah satu bagian dari aliran kali Pelus yang mengalir ke daerah hilir sampai Sumbang dan Sokaraja.

Karena berada di ketinggian tersebut membuat curug ini selalu berhawa sejuk.  Terlebih-lebih letaknya yang tersembunyi di tengah perkebunan dan hutan, serta ceruknya yang setengah lingkaran dengan latar belakang Gunung Slamet menjadikan kawasan curug ini kerap disambangi pasangan muda Purwokerto yang ingin mojok.  Selain itu di curug ini banyak terdapat kelelawar yang beterbangan di sekitarnya.

Tak jauh dari Curug Ceheng terdapat Curug Lawa yang terletak di sebelah utara.
Lokasi

Terletak di Desa Gandatapa, Kecamatan Sumbang, 
Kabupaten Banyumas,Propinsi Jawa Tengah.

Peta dan Koordinat GPS: 
-7° 19' 36.00", +109° 16' 4.00"

Aksesbilitas

Berjarak sekitar 15 km di ujung timur dari kota Purwokerto.  Untuk menuju ke Curug Ceheng, tidak terlalu sulit. Jika berangkat dari arah Purwokerto dengan kendaraan pribadi langsung ambil jalur ke arah Sumbang dengan melewati kawasan wisata Baturaden.  Dua jurusan dapat ditempuh, melalui Dukuh Waluh atau Jalan HR Bunyamin.  Setelah melewati Baturaden dan sampai di pertigaan Pabuaran, ambil belokan ke kanan ke arah sumbang.  Selanjutnya  belok ke kiri ke arah Limpakuwus. Kondisi jalan ke curug ini sudah beraspal dan lumayan bagus.

Dan jika masuk dari Purbalingga bisa lewat Padamara hingga sampai di Sumbang, selanjutnya tinggal lurus ke utara.

Bagi yang menggunakan kendaran umum dapat naik angkutan pedesaan dari Sumbang dengan rute ke Limpakuwus.

Sebelum masuk curug, ada pintu gerbang dengan gapura besar bertuliskan Curug Ceheng berdiri di kiri jalan dari arah Purwokerto.  Di pintu masuk iniakan dijumpai pos tempat penjualan tiket masuk dan informasi mengenai curug.

Selanjutnya dari gerbang obyek wisata ini, masih harus menempuh lagi jarak sekitar 400 meter untuk mencapai lokasi.  Perjalanan menuju curug ini dengan menuruni tebing yang cukup terjal sekitar 70 m.  Untuk menuruni tebing ini, sudah tersedia anak tangga yang berkelak kelok untuk memudahkan pengunjung berjalan.  Kehati-hatian sangat diperlukan sewaktu turun karena sebagian masih berupa tanah dan belum disemen, pagar untuk pegangan juga tidak tersedia di seluruh bagian.

Tiket dan Parkir
Tiket masuk adalah Rp 1500 per orang (termasuk asuransi kecelakaan Rp 100).  Biaya parkir kendaraan roda dua Rp 1000 dan kendaraan roda empat Rp 2000.

Fasilitas dan Akomodasi
Fasiltitas yang tersedia antara lain area parkir yang cukup luas, area bumi perkemahan, loket tiket dan WC.  Sayangnya fasilitas yang ada terutama area parkir dan WC kurang terurus sehingga kotor dan berbau.   

Selasa, 26 November 2013 0 komentar

Cinta kan Membawamu


Intro F Am F Am Dm Am 

F     G          Am 
 Tiba saat mengerti,  
  
G      C    F 
jerit suara hati 
      
G          Am 
Letih meski mencoba 
G      F               G 
Melabuhkan rasa yang ada 

Verse 2: 
F      G           Am  
 Mohon tinggal sejenak 
  
G    C      F 
lupakanlah waktu 
       
G       Am 
Temani air mataku 
  
G        F 
teteskan lara 
         
G               Fm   
Merajut asa, menjalin mimpi 
           
Am   G 
endapkan sepi-sepi 

Reff: 
       
F          Am 
Cinta `kan membawamu 
   
F        Am    Dm      C 
kembali disini, menuai rindu 
   
A#      G 
Membasuh perih 
     
F         Am 
Bawa serta dirimu 
  
F           Am 
dirimu yang dulu 
   
Dm    C  A#     G 
Mencintaiku apa adanya 

Verse 3: 
F     G          Am 
 Saat dusta mengalir 
  
G     C     F 
jujurkanlah hati 
          
G         Am 
Tenangkan batin jiwamu 
  
G          F 
genangkan cinta 
          
G 
Seperti dulu 
          
F 
saat bersama 
          
Am  G 
tak ada keraguan 

Int. 
F Am F Am Dm Am

nah kalo kalian mau download lagunya tinggal klik disini download
0 komentar

Cara Menghilangkan Stress Dan Menenangkan Pikiran



Setiap orang pasti mempunyai masalah yang beragam,dari masalah kecil sampai besar sehingga membuat orang tertekan akan masalah tersebut dan membuat pikiran stress.
Meskipun masalah yang dihadapi kecil sekalipun jika masalah tersebut bertumbukan akan mengakibatkan stress juga,sehingga akan mempengaruhi aktifitas keseharian anda.
Cara Menghilangkan Stress Dan Menenangkan Pikiran - Untuk menghilangkan stress tersebut ada beberapa point yang harus anda lakukan sebagai berikut:

1.Ketahui Penyebab Stress

Pertama-tama, cobalah untuk mencari tahu apa yang paling membuat anda merasa tertekan. Kadang-kadang sumber-sumber luar seperti lingkungan kerja, beban pikiran terlalu banyak atau masalah pasangan dan keluarga yang jadi sebab utama
atau jangan-jangan sumbernya pikiran Anda sendiri, kekhawatiran, emosi tidak stabil bisa memicu kondiisi stres


2.Belajarlah untuk berkata tidak dalam kehidupan
Sangat sulit rasanya untuk mengatakan 'tidak' dalam kehidupan pribadi atau profesional karena Anda berpikir bahwa dengan menolak, orang lain pasti akan merasa jengkel. Bersikap tegas ,Fokus pada tujuan Anda sendiri dan berani mengatakan tidak kepada mereka justru memberikan Anda ketenangan, ini tentu mencegah Anda terbawa pikiran stres daripada terpaksa berkata Iya sementara anda tak mampu menuanikannya, ujung-ujungya dapat menyebabkan stres.

3.Jangan Kedepankan Emosi

Bila perilaku seseorang yang mengganggu membuat Anda stres. Berbicara sopan dengannya dan ceritakan tentang hal itu. Kuasailah pikiran dan emosi, jangan sampai amarah membuat keadaan menjadi tanbah rumit.

4.Butuh Waktu Untuk Diri Sendiri

Cobalah untuk bersantai . Menghabiskan beberapa waktu dengan keluarga  Anda, membaca buku atau menonton film favorit,  bermain olahraga favorit tiap sore atau menikmati keindahan alam bersama teman , akan  benar-benar menenangkan pikiran Anda dan melepaskan semua ketegangan dan pikiran stres.

5.Bergaul dengan orang-orang positif
Menghabiskan beberapa waktu dengan orang-orang positif, setidaknya memperkuat mental anda untuk bertahan menghadapi stres. sangat dianjurkan bagi anda bertukar pikiran dan membagi keluh kesah pada orang yang selalu bersikap positif.

6.Mendengarkan Musik
Musik bekerja seperti sihir untuk menenangkan pikiran Anda dan memberikan efek rileks dari semua ketegangan dan stres. Jadi mendengarkan musik favorit Anda atau memainkan gitar atau piano ketika Anda merasa stres sangatlah baik untuk dicoba.

7.Cukup tidur
Tidur selama minimal 6 sampai 8 jam setiap hari karena meremajakan tubuh kita dan membuatnya siap untuk hari berikutnya. Jika kita tidak mendapatkan cukup tidur, tubuh kita tetap lelah, tidak memiliki energi yang cukup untuk berkonsentrasi dan bekerja dengan baik yang selanjutnya mengarah ke stres.

8.Tertawa
Dikatakan bahwa tertawa adalah obat yang baik. Jika Anda memiliki rasa humor yang baik, Anda kurang rentan terhadap stres, depresi dan kecemasan. Jika Anda menghadapi beberapa fase sulit dalam hidup, jangan kehilangan senyum di wajah Anda dan hadapilah sebagai seorang pejuang yang tidak pernah mengutuk takdir.

9.Bicara dengan teman
Saat ini tampaknya mengirim pesan singkat atau menggunakan aplikasi chatting adalah hal yang biasa dilakukan untuk ngobrol. Tapi cobalah untuk menelepon teman Anda. Berbicara dengan orang yang Anda sayangi bisa membantu tubuh memberikan respon positif.

10.Lakukan yoga

Ketika Anda merasa lelah dengan semua masalah di kantor maupun di rumah, luangkan waktu barang lima menit saja untuk melakukan pose 'membuka hati'. Terdapat beberapa pose yoga yang berfokus pada bagian pundak dan dada untuk melepaskan beban fisik dan mental. Postur ini bisa membantu melepaskan tekanan emosional serta menghilangkan efek negatif karena duduk terlalu lama.

11.Cari hal yang positif di sekitar kita.
Jangan terpaku pada kelemahan kita. Kumpulkanlah hal - hal yang positif dari diri kita dan berbahagialah dengan kelebihan kita tersebut.

12.Tertawa
Untuk mencegah dan meringankan stres, kita perlu mempertahankan selera humor kita, termasuk bisa menertawai diri sendiri. Kita bisa berbagi cerita lucu dengan teman - teman untuk menghibur diri.

Senin, 25 November 2013 0 komentar

Resensi Novel : Jodoh dari Surga - Ifa Avianty



Judul: Jodoh dari Surga
Pengarang: Ifa Avianty
Penerbit: QultumMedia
Genre: Romance-Comedy, Islamic Novel
Tebal: vi+138 halaman
Harga (Toko): Rp17.500
Rilis: 2007 (Cetakan Kedua)

Catatan: Novel ini udah gua baca lamaaaaaaaaa banget, tapi kelupaan belum di-share resensinya. Nah, sambil nunggu beberapa buku gua tulis review-nya, kayaknya ga ada salahnya gua upload yang ini dulu. Secara, masih demam Facebook on Love-nya Ifa, qiqiqiqiqiqi…

Saya lupa apa yang mendorong saya untuk membeli novel ‘tipis’ ini. Mungkin harganya yang ‘murah-banget’ menjadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi keputusan saya. Tapi, paling tidak satu yang saya ingat, gaya bahasa Ifa memang memikat saya dari awal saya meng’observasi’ novel ini sebelum deal dengan kasir dan membayarnya.

Untuk ukuran sebuah novel berlabel Islamic Novel, novel ini cukup ciamik dalam hal tata bahasa, sesuai dengan selera saya. Tidak terlalu membingungkan, mengalun sempurna dalam modernisasi kota besar, meskipun membuatnya menjadi terlalu ‘dangkal’ tergabung dalam lingkup novel bertema Islam. Ciri Islam hanya ditempelkan pada cerita tokohnya yang sering digambarkan salih-salihat, pintar mengaji, atau lontaran salam pada setiap kesempatan, plus aksesoris ‘kerudung’ dan jilbab pada tokoh wanitanya. Bisa bayangin nggak seorang cewek berjilbab, terus maen piano dalam sebuah resital piano akbar? Gue nggak bisa nih.

Cerita yang dibangun Ifa sebenarnya sangat menarik karena dibuat dengan tumpukan konflik yang bergulung-gulung bak benang kusut yang susah diuraikan. Hidup serasa berwarna dengan ragam masalah pelik yang menghampiri tiap-tiap tokohnya. Dari mulai perjodohan yang terpaksa hingga isu poligami. Namun, daya tahan saya untuk menerima gunungan konflik ini ternyata tidak terlalu bagus. Saya malah mati bosan di tengah masalah-masalahnya. Kisah tragis salah satu karakter kuncinya pun tak mampu membangkitkan rasa iba yang biasanya gampang sekali hadir dalam setiap kesempatan saya membaca novel dengan tokoh kunci hidup bergelimang sengsara. Waktu baca Bidadari-bidadari Surganya tere-liye aja gue nangis bombay hampir sampai akhir novel. Huhuhuhuhu....

Keribetan yang diciptakan Ifa nyatanya gampang sekali terurai di hampir pengujung novel, yang membuat saya mengerenyit heran. Mengapa masalahnya jadi mudah sekali ya? Mungkin kendala sedikitnya halaman membuat jalan cerita tidak dibuat dengan ending yang memadai dan terkesan dipaksakan untuk selesai. Keinginan penulis untuk mengakhiri segalanya dengan emosional justru terasa mengada-ada, menurut saya. Yah, cuman gini doank? sungut saya.

Kelemahan lain yang menyertai novel ini adalah point of view karakter yang digunakan sedikit kedodoran. Sudut pandang orang pertama ‘aku’ sedianya dihadirkan dengan independensi tiap tokohnya, seluruh tokoh menggunakan kata ganti orang pertama. Saya memang pengagum cerita dengan ciri khas begitu tetapi khusus untuk novel Ifa ini, penggunaan kata ganti orang pertama untuk hampir seluruh tokohnya malah membuat plot menjadi berantakan. Bahkan yang sangat saya sesalkan adalah tokoh ‘pinggiran’ yang sebelumnya tidak punya peran besar tiba-tiba ikut ‘berbincang’ dan mengambil porsi dalam jalinan cerita. Hal tersebut, menurut saya, kurang bagus dan sedikit ‘menghancurkan’ cerita yang telah dibangun sebelumnya. Kekurangan lain yang agak terlihat nyata adalah penggunaan kata ganti orang pertama ini cenderung lemah karena antara satu karakter dengan karakter lain ‘terasa’ sama saja. Tidak teraba perbedaan pada masing-masing tokoh. Nggak mungkin kan semua orang sama?

Yeah, maaf kalau saya sepertinya jago ‘kritik’ sekali, padahal membuat cerita sendiri saja saya tidak bisa. Namun, rasanya saya punya hak, karena saya toh sebagai pembaca memiliki kesempatan untuk berkomentar atas setiap karya yang saya ‘beli’ kan? But, like I said before, saya suka gaya bahasa yang digunakan Ifa.Chic. Simple. And, lovely.
 
;